SEKOLAH 16 TAHUN TRADISI ATAU KEWAJIBAN?

“AI bisa membantu kita belajar lebih cepat. Tapi hanya manusia yang bisa memutuskan: mau jadi siapa—dan untuk apa ia belajar.”
— Ferry Syah

Kita hidup di zaman yang semakin berkembang pesat. Di satu sisi, teknologi berkembang seperti roket. AI semakin hari semakin pintar. Pekerjaan baru muncul lebih cepat daripada kurikulum sekolah bisa mengejarnya. Namun di sisi lain, manusia masih hidup dengan pola yang sama seperti 50–100 tahun lalu:

Masuk SD 6 tahun.
Lanjut SMP 3 tahun.
Lanjut SMA 3 tahun.
Lanjut kuliah 4 sampai 6 tahun.

Totalnya bisa 16 sampai 18 tahun hanya untuk “belajar”. Pertanyaannya sederhana, tapi mengguncang:

Apakah manusia benar-benar harus menghabiskan 16–18 tahun hidupnya untuk belajar, sebelum ia boleh dianggap layak hidup?

Atau jangan-jangan… sistem itu hanya tradisi yang kita anggap wajib?
Kita terlalu lama menerima pola hidup ini tanpa bertanya.

Karena kita diajarkan sejak kecil bahwa sekolah adalah jalan tunggal.
Seolah-olah pendidikan itu hanya bisa terjadi jika seseorang duduk di kelas, memakai seragam, mendengar guru berbicara, lalu diuji dengan soal.

Padahal kenyataannya…

Sekolah bukan satu-satunya cara belajar. Sekolah hanyalah satu sistem. Dan sistem itu sudah mulai usang.


SEKOLAH ITU BUKAN SISTEM PENGEMBANGAN MANUSIA, TAPI SISTEM PABRIK

Kalau kita jujur, sekolah modern lebih mirip pabrik daripada taman pendidikan.

Semua anak diproses dengan cara yang sama:

Masuk jam 7 pagi.
Duduk berjam-jam.
Mendengar.
Menghafal.
Diuji.
Naik kelas.
Lulus.

Yang nilainya tinggi dianggap pintar.
Yang nilainya rendah dianggap gagal.

Tapi apakah manusia benar-benar bisa diukur seperti itu?

Manusia bukan mesin fotokopi.

Ada anak yang kuat di logika.
Ada anak yang kuat di seni.
Ada yang kuat di komunikasi.
Ada yang kuat di teknologi.
Ada yang kuat di olahraga.
Ada yang kuat di kepemimpinan.

Namun sistem sekolah memperlakukan semua anak seperti satu tipe manusia saja. Ini masalah besar. Karena sistem yang menyamaratakan manusia, pada akhirnya hanya menghasilkan dua hal:

  1. Anak yang cocok dengan sistem → dianggap hebat
  2. Anak yang tidak cocok dengan sistem → dianggap lemah

Padahal bisa jadi, anak yang “lemah” di sekolah justru adalah calon inovator besar di dunia nyata.


MASALAHNYA BUKAN BELAJAR, MASALAHNYA CARA BELAJAR YANG BOROS WAKTU

Banyak orang salah paham ketika mendengar kritik terhadap sekolah.

Mereka langsung berpikir:

“Kalau tidak sekolah, berarti bodoh dong?”

Tidak.

Masalahnya bukan belajar.
Masalahnya adalah cara belajar yang terlalu boros waktu dan tenaga.

Kita dipaksa menghabiskan belasan tahun untuk mempelajari banyak hal yang bahkan tidak kita gunakan setelah lulus.

Kita dipaksa menghafal rumus yang lupa setelah ujian.
Kita dipaksa mengingat detail yang tidak relevan dengan dunia nyata.
Kita dipaksa mengejar nilai, bukan mengejar kemampuan.

Ini bukan pendidikan.

Ini hanya pelatihan untuk bertahan dalam sistem.

Dan lebih aneh lagi: semua orang tahu itu, tapi semua orang tetap ikut.
Karena sudah dianggap standar hidup.


AI MEMBONGKAR MITOS TERBESAR: BELAJAR TIDAK HARUS LAMA

Dulu, belajar memang butuh waktu panjang.

Karena informasi sulit didapat.
Karena guru terbatas.
Karena buku terbatas.
Karena tidak ada mentor pribadi.

Tapi sekarang?

AI adalah mentor pribadi yang tidak tidur.
AI bisa menjelaskan satu hal dengan 100 cara sampai kita paham.
AI bisa memberi latihan, kuis, simulasi, dan contoh nyata.
AI bisa menyesuaikan gaya belajar sesuai kemampuan seseorang.

Di masa lalu, seseorang butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar sesuatu.
Di masa sekarang, seseorang bisa mempercepat proses itu secara drastis.
Dan ini bukan teori.
Ini sudah terjadi.

Hari ini ada orang yang tidak punya latar belakang IT, tapi bisa membuat aplikasi.
Ada orang yang tidak sekolah desain, tapi bisa membuat konten visual berkualitas tinggi.
Ada orang yang tidak kuliah coding, tapi bisa membangun website, sistem otomatisasi, dan bahkan produk digital.
Bukan karena mereka “lebih pintar”.

Tapi karena mereka menggunakan sistem baru:

manusia + AI.

AI tidak menggantikan manusia.
AI menggantikan proses belajar yang lambat.


SEKOLAH TIDAK MENENTUKAN DUNIA KERJA, KENAPA KITA MASIH BERLAKU SEOLAH MENENTUKAN HIDUP?

Fakta yang sering kita pura-pura tidak tahu adalah ini:

banyak orang tidak bekerja sesuai jurusannya.

Sarjana ekonomi bekerja di pertambangan.
Sarjana hukum menjadi pengusaha.
Sarjana pendidikan menjadi content creator.
Sarjana teknik menjadi pegawai administrasi.

Artinya apa?

Artinya sekolah bukan penentu masa depan.
Sekolah hanya salah satu jalur sosial.

Bahkan banyak orang yang sukses besar bukan karena sekolahnya hebat, tetapi karena mereka menemukan jalur belajar sendiri.

Dan semakin maju teknologi, semakin jelas bahwa dunia kerja tidak lagi bertanya:

“Kamu lulusan mana?”

Dunia kerja mulai bertanya:

“Apa yang bisa kamu buat?”

Ini pergeseran besar.

Karena di era AI, kompetensi akan lebih terlihat daripada ijazah.


YANG LEBIH PARAH, ANAK-ANAK DIPAKSA HIDUP TIDAK SESUAI BIOLOGINYA

Coba lihat sekolah dasar di Indonesia.

Anak-anak harus masuk jam 7 pagi.

Artinya mereka harus bangun jam 5 pagi.
Siap-siap jam 6 pagi.
Berangkat saat matahari bahkan belum naik.

Lalu begitu sampai di sekolah?

Mereka langsung masuk kelas.
Duduk.
Mendengar.
Berjam-jam.

Padahal tubuh anak itu butuh:

  • sinar matahari pagi
  • gerak fisik
  • eksplorasi
  • bermain
  • pengalaman sosial yang alami

Tapi sistem sekolah modern memaksa anak hidup seperti pegawai kantor.
Dari kecil mereka sudah dilatih untuk duduk diam.
Dan setelah pulang?
Masih ada PR.

Artinya pendidikan tidak hanya memakan waktu di sekolah, tapi juga memakan waktu hidup anak di rumah.

Ini bukan pendidikan sehat.
Ini sistem yang melelahkan, bahkan sebelum anak tahu apa itu kehidupan.


SEKOLAH MENGAJARKAN “JAWABAN BENAR”, PADAHAL HIDUP BUTUH “KEPUTUSAN BENAR”

Di sekolah, kita dilatih menjawab soal. Kalau jawabannya benar, dapat nilai bagus. Kalau salah, dianggap bodoh. Tapi hidup tidak seperti itu.

Hidup tidak memberikan soal pilihan ganda. Hidup memberikan situasi kompleks:

  • memilih pekerjaan
  • mengelola uang
  • membangun relasi
  • mengatasi kegagalan
  • membaca peluang
  • memahami manusia
  • memahami diri sendiri

Dan semua itu jarang diajarkan secara serius di sekolah. Sekolah melatih anak untuk menjadi patuh.
Bukan melatih anak untuk menjadi pemimpin hidupnya sendiri. Karena sistem sekolah lahir bukan untuk menciptakan manusia bebas berpikir. Sistem sekolah lahir untuk menciptakan masyarakat yang seragam dan mudah diatur.


AI MEMAKSA KITA MENGUBAH DEFINISI “PINTAR”

Di masa lalu, pintar berarti:

  • hafal banyak
  • cepat menghitung
  • cepat mengingat
  • nilai tinggi

Tapi di era AI, semua itu mulai kehilangan nilai.

Karena AI bisa mengingat lebih baik.
AI bisa menghitung lebih cepat.
AI bisa mengakses informasi lebih luas.

Maka definisi pintar berubah.

Pintar di era AI adalah:

  • bisa bertanya dengan tepat
  • bisa berpikir sistemik
  • bisa mengambil keputusan
  • bisa membangun sesuatu yang nyata
  • bisa menggabungkan banyak ide menjadi solusi
  • bisa memahami konteks dan manusia

Dengan kata lain: pintar bukan lagi tentang mengingat. Pintar adalah tentang berpikir. Dan sekolah lama masih sibuk melatih hafalan.


JADI APA SEKOLAH AKAN HILANG?

Tidak.

Sekolah tidak akan hilang. Tapi sekolah dalam bentuk sekarang akan runtuh pelan-pelan.
Yang akan hilang adalah sistem pendidikan yang boros dan kaku. Karena dunia tidak bisa menunggu. Kita sedang memasuki era di mana belajar harus seperti ini:

  • cepat
  • modular
  • berbasis skill
  • berbasis proyek nyata
  • sesuai minat dan bakat individu
  • didukung AI sebagai tutor personal

Sekolah masa depan bukan tempat menghafal. Sekolah masa depan harus menjadi tempat manusia belajar hal yang tidak bisa digantikan AI:

  • karakter
  • etika
  • kerja sama
  • kepemimpinan
  • empati
  • kreativitas
  • kemampuan berpikir kritis

Karena kalau sekolah masih mempertahankan cara lama, maka sekolah akan kalah bukan oleh AI, tapi oleh kenyataan.


WAKTU ADALAH ASET NASIONAL

Ini poin yang paling penting. Karena masalah terbesar bukan soal kurikulum. Masalah terbesar adalah waktu. Jika satu generasi menghabiskan 16–18 tahun hidupnya untuk belajar hal yang sebagian besar tidak relevan, maka negara sedang membuang aset terbesar yang ia punya:

waktu manusia.

Padahal waktu adalah sumber daya yang tidak bisa diperbarui. AI membuat pemborosan ini makin jelas. Karena AI menunjukkan bahwa banyak hal bisa dipelajari lebih cepat.Maka pertanyaan yang harus mulai dipikirkan pemerintah bukan lagi:

“Bagaimana membuat kurikulum lebih padat?”

Tetapi:

“Bagaimana membuat pendidikan lebih efisien dan relevan agar manusia tidak kehilangan masa emasnya?”


PENDIDIKAN BUKAN DIHAPUS, TAPI HARUS DIREVOLUSI

Ini bukan ajakan untuk meninggalkan pendidikan. Ini ajakan untuk menyelamatkan pendidikan dari sistem lama yang tidak lagi cocok dengan zaman.

Sekolah bukan musuh.
Guru bukan musuh.

Musuh kita adalah pola pikir lama:

bahwa semua orang harus belajar hal yang sama, dengan tempo yang sama, selama belasan tahun. Karena dunia sudah berubah. Dan AI bukan sekadar alat. AI adalah tanda bahwa kita sedang memasuki peradaban baru. Dan peradaban baru tidak bisa memakai sistem pendidikan dari masa lalu.


KALAU KITA TIDAK BERUBAH, ANAK-ANAK AKAN MENJADI KORBAN SISTEM

Kita harus berani mengakui:

banyak anak yang tidak gagal karena bodoh. Mereka gagal karena sistem tidak cocok dengan cara otak mereka tumbuh. Banyak anak tidak malas. Mereka hanya kehilangan rasa ingin tahu karena sekolah membuat belajar terasa seperti hukuman. Dan ini berbahaya. Karena bangsa yang kehilangan rasa ingin tahu, akan kehilangan masa depannya.


SEKOLAH HARUS MENYESUAIKAN DIRI, BUKAN MANUSIA YANG DIPAKSA MENYESUAIKAN DIRI

Jika pendidikan benar-benar bertujuan membangun manusia, maka sistemnya harus fleksibel. Bukan manusia yang dipaksa seragam. Karena setiap anak adalah dunia yang berbeda. Dan di era AI, manusia tidak lagi membutuhkan sistem yang membuat mereka hafal. Manusia membutuhkan sistem yang membuat mereka:

  • berpikir
  • bertumbuh
  • menemukan potensi
  • membangun karya nyata
  • menjadi pribadi yang kuat dan mandiri

Karena AI bisa membantu kita belajar lebih cepat. Tapi hanya manusia yang bisa memutuskan:
mau jadi siapa—dan untuk apa ia belajar.


Cara berpikir lama tidak salah. Tapi dunia sudah berubah.
Ferry Syah

Samarinda – 11 Februari 2026

More From Author

SISTEM PENDIDIKAN & ERA Ai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *