SISTEM PENDIDIKAN & ERA Ai

Sekolah itu penting, tapi sistemnya harus kita evaluasi ulang, sistemnya sudah kedaluwarsa di Era Ai

Selama puluhan tahun, masyarakat menerima satu pola hidup tanpa banyak bertanya:
masuk SD 6 tahun, lanjut SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, lalu kuliah 4-6 tahun. Totalnya bisa mencapai 16–18 tahun hanya untuk “belajar” (belum termasuk playgroup / TK).

Pola ini begitu mapan, seolah menjadi hukum alam.
Siapa yang tidak mengikutinya, dianggap menyimpang.
Siapa yang mempertanyakannya, dianggap malas atau anti pendidikan.

Padahal, di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pertanyaan mendasar justru perlu diajukan kembali:
apakah sistem pendidikan yang kita pertahankan hari ini masih relevan dengan dunia yang sedang dan akan kita hadapi?


Sekolah Adalah Sistem Warisan, Bukan Kebenaran Mutlak

Sekolah modern bukanlah sistem yang lahir dari nol. Ia merupakan produk sejarah—dirancang pada masa revolusi industri, ketika negara membutuhkan tenaga kerja massal yang disiplin, patuh, dan seragam.

Modelnya linear, kaku, dan berbasis durasi waktu:
naik kelas karena usia, lulus karena tahun, bukan semata karena kompetensi.

Masalahnya, dunia yang melahirkan sistem itu sudah berubah drastis.
Sementara cara berpikir kita tentang pendidikan sering kali masih tertinggal.

Sekolah lalu diperlakukan bukan sebagai sistem yang bisa dievaluasi, tetapi sebagai “kebenaran”. Akibatnya, kritik terhadap sekolah sering disalahpahami sebagai penolakan terhadap pendidikan itu sendiri.

Padahal yang perlu dikritisi bukan niat pendidikannya, melainkan desain sistemnya.


Inefisiensi Waktu: Masalah yang Jarang Dibicarakan

Salah satu persoalan paling mendasar dalam sistem pendidikan saat ini adalah pemborosan waktu belajar.

Banyak materi dipelajari bertahun-tahun, namun tidak pernah digunakan kembali.
Banyak pelajaran hanya relevan untuk ujian, bukan untuk kehidupan nyata.
Banyak lulusan akhirnya bekerja di bidang yang tidak berkaitan dengan jurusan pendidikannya.

Fenomena ketidaksesuaian antara pendidikan dan dunia kerja bukan kasus individual, melainkan pola sistemik. Jika jutaan orang mengalami hal yang sama, maka yang bermasalah bukan manusianya, melainkan sistemnya.

Di titik inilah AI mengubah segalanya.

Dengan AI, proses belajar yang dulu membutuhkan waktu panjang kini dapat dipercepat secara signifikan. AI mampu menjadi tutor personal, menjelaskan materi dengan berbagai pendekatan, memberikan latihan adaptif, bahkan membantu seseorang membangun solusi nyata tanpa harus menguasai seluruh detail teknis secara manual.

Artinya, asumsi lama bahwa belajar harus memakan waktu belasan tahun mulai kehilangan pijakan logisnya.


Sekolah Tidak Lagi Menentukan Dunia Kerja

Fakta lain yang sulit dibantah: sekolah formal semakin tidak menentukan arah karier seseorang.

Sarjana ekonomi bekerja di sektor tambang.
Lulusan hukum menjadi pengusaha.
Lulusan pendidikan menjadi kreator digital.
Bahkan banyak inovator teknologi besar lahir dari jalur nonformal.

Di era AI, dunia kerja mulai bergeser dari pertanyaan “lulusan mana?” menjadi “apa yang bisa kamu lakukan?”.

Kompetensi nyata, portofolio, dan kemampuan memecahkan masalah perlahan menggantikan ijazah sebagai penentu nilai seseorang. Sistem pendidikan yang masih terlalu berfokus pada gelar dan nilai akademik berisiko semakin kehilangan relevansi.


Anak-anak Dibebani Sistem yang Tidak Selaras dengan Biologinya

Persoalan pendidikan juga tidak bisa dilepaskan dari kesehatan fisik dan mental anak.

Jam masuk sekolah yang terlalu pagi, durasi belajar yang panjang, beban tugas berlebih, serta minimnya aktivitas fisik dan paparan sinar matahari adalah realitas sehari-hari banyak siswa, terutama di pendidikan dasar.

Anak-anak dipaksa duduk diam selama berjam-jam, seolah tubuh mereka dirancang untuk rutinitas kantor. Padahal, masa kanak-kanak adalah fase eksplorasi, bergerak, dan membangun rasa ingin tahu.

Jika sejak dini belajar diasosiasikan dengan tekanan dan kelelahan, maka yang rusak bukan hanya semangat belajar, tetapi bisa juga kesehatan mental jangka panjang.


AI Mengubah Makna “Pintar”

Di masa lalu, pintar identik dengan hafalan, nilai tinggi, dan kecepatan mengerjakan soal.
Namun AI telah mengambil alih hampir seluruh aspek tersebut.

Hari ini, yang menjadi nilai utama manusia justru adalah kemampuan berpikir kritis, bertanya dengan tepat, memahami konteks, mengambil keputusan, serta menggabungkan berbagai pengetahuan menjadi solusi nyata.

Sayangnya, sistem sekolah masih terlalu sibuk melatih hafalan, bukan pemikiran atau logika berpikir.

Jika pendidikan tidak segera menyesuaikan diri, maka sekolah berisiko menjadi tempat yang sibuk secara administratif, namun kosong secara substantif.


Sekolah Tidak Perlu Dihilangkan, Tapi Harus Direformasi

Penting untuk ditegaskan: catatan ini bukan ajakan untuk menghapus/menghilangkan sekolah.

Sekolah tetap penting sebagai ruang sosial, pembentukan karakter, etika, kerja sama, dan kepemimpinan. Namun, sistemnya perlu direformasi secara serius.

Pendidikan masa depan perlu bergerak ke arah:

  • pembelajaran berbasis kompetensi, bukan durasi
  • sistem modular yang fleksibel
  • evaluasi berbasis proyek dan portofolio
  • integrasi AI sebagai infrastruktur pendidikan
  • peran guru sebagai fasilitator dan pembimbing, bukan sekadar penyampai materi

Waktu adalah Aset Nasional

Yang sering luput dari pembahasan adalah satu hal mendasar: waktu manusia adalah aset nasional.

Jika satu generasi menghabiskan belasan tahun dalam sistem pendidikan yang tidak efisien dan kurang relevan, maka negara sedang kehilangan potensi produktivitas dalam skala besar.

Di era AI, efisiensi pembelajaran bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis.


Sekolah tidak salah.
Guru tidak salah.
Pendidikan tidak salah.

Yang perlu dikoreksi adalah cara kita memaknai dan merancang pendidikan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Jika pendidikan tidak beradaptasi dengan era AI, maka pendidikan akan tertinggal.
Dan bangsa yang pendidikannya tertinggal, akan kesulitan bersaing di masa depan.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah sistem pendidikan perlu berubah,
melainkan seberapa cepat kita berani memulainya.


Ditulis dari refleksi pribadi saya,
Ferry Sachfiari
(pembelajar, dan pengamat perubahan di era AI)

More From Author

Kenali Tubuhmu Ketika Sedang STRESS

SEKOLAH 16 TAHUN TRADISI ATAU KEWAJIBAN?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *